jump to navigation

Memaknai Insiden Cikeusik dan Temanggung 9 February 2011

Posted by yesuaiwo in Renungan.
add a comment

Tanggal 7 dan 8 Februari 2011 adalah tanggal2 kelam dalam sejarah Indonesia di masa hidup saya.

Dengan biadab, ribuan orang menyerbu 20an orang yang dituding sebagai sesat di Cikeusik pada tanggal 7. Dengan biadab, mereka merangsek maju, mengingatkan akan jaman kegelapan di Eropa, ketika massa datang menyerbu mereka yang dituduh sebagai penyihir. Kemudian dengan biadab, mereka memukuli beberapa orang sampai mati, dengan ditonton beramai-ramai. Tragis dan biadab!

Satu perenungan, apakah kalau kasus ini terjadi di kalangan Kristen, hal yang sama akan terjadi? Saya rasa mungkin saja. Kita ingat di jaman 1500an, bagaimana gereja Roma memburu kelompok Protestan. Lalu beberapa tahun kemudian kelompok Protestan dan Katolik memburu kelompok Anabaptis. Dan seterusnya. Tapi di sisi lain, kita berharap bahwa sejarah kelam tersebut sudah membuat orang Kristiani sadar.

*sekedar catatan, beberapa hari yang lalu, teolog kontroversial Kristen, Ioanes Rakhmat, dilaporkan ke polisi*

Seorang teman dulu pernah berkata, perbedaan agama itu sebetulnya mirip asuransi saja. Masing2 klaim asuransinya yang paling baik dan berusaha saling meyakinkan untuk ikut asuransinya itu. Tapi kalau tidak mau, ya sudah, dibiarkan saja kan?

Hal lain yang juga jadi perenungan saya, kalau Ahmadiyah yang percaya akan adanya nabi lain setelah Yesus (Isa) dan Muhamad bisa dibantai, bagaimana dengan orang Kristen yang tidak percaya ada nabi setelah Yesus!

Besoknya, ribuan orang lagi membakar 2 gereja dan merusak 1 gereja lain di Temanggung. Alasannya karena seorang penyebar selebaran yang katanya menghina agama (tapi tidak bny yang tau isinya apa) “hanya” dihukum 5 tahun penjara (bandingkan dengan hukuman 6 bulan untuk Muharli Barda, ketua FPI Bekasi yang dituduh menusuk orang HKBP). Mereka menuntut dihukum mati.

Di satu sisi saya lega bahwa si terdakwa bisa diselamatkan polisi sehingga tidak sampai berakhir tragis. Tapi di sisi lain, saya sangat sedih bahwa lagi2 gedung gereja, sebagai simbol kekristenan, dijadikan target. Ini menunjukkan kebencian massa tersebut kepada kekristenan. Jadi pertanyaan, mengapa? Tentu kita bisa menyalahkan para pemimpin massa. Tapi jangan2 orang Kristen sendiri memang sama sekali tidak jadi berkat. Kita terlalu sibuk ngurusin sorga dan keselamatan roh (doktrin yang sebetulnya juga seringkali tidak setia dengan ajaran Alkitab bahwa sorga bukan akhirnya, melainkan kedatangan Yesus kedua kali dan pemulihan ciptaan). Atau ngurusin kelompok sendiri, tentang gimana supaya jemaat saya bertambah banyak, tidak diganggu orang, gedungnya nyaman, seputar2 itu saja.

Hal lain, saya sedang dalam periode membaca beberapa kisah tentang sejarah gereja di jaman Roma. Tepatnya di era setelah Para Rasul mangkat, tapi kekristenan belum diakui Roma. Itu adalah jaman yang sangat berat. Gereja minoritas, ditolak oleh Yahudi maupun oleh orang Roma. Akibatnya orang Kristen dianiaya habis2an. Tapi ajaibnya, Gereja tidak punah, malah akhirnya berkembang luar biasa (setidaknya secara jumlah). Fakta ini mengingatkan saya akan kalimat Tuhan: “Sebab dalam kelemahanlah, kuasa-Ku sempurna.”Kekristenan di Indonesia juga minoritas dan tertindas. Tapi kita diingatkan, bahwa dalam keadaan demikianlah, kuasa Tuhan akan sempurna. Entah bagaimana, nama-Nya akan dimuliakan, kalau kita tetap setia.

Saya juga berpikir, kita bersyukur punya teladan dari Yesus yang tidak melawan ketika disalibkan. Kemudian di Perjanjian Baru juga setahu saya tidak ada ayat tentang umat melakukan kekerasan (adanya hukuman dari Allah, bukan oleh umat). Selain itu, Gereja muncul tepat di jaman ketika dunia sedang intoleran terhadap kehadiran mereka, mengakibatkan mereka hanya bisa menerima penganiayaan dan berdoa. Sehingga dari ketiga hal tersebut, Gereja tidak punya alasan untuk bertindak agresif, dalam kondisi apapun. Baru nanti ketika gereja dapat kekuasaan di Eropa, kekristenan dikotori oleh kekerasan. Tapi itu pun sekarang cenderung dilihat sebagai penyimpangan, bukan hal yang lahir dari iman yang benar.

Sebagai penutup, entah apa yang sedang Tuhan rencanakan atas Indonesia. Kita harus percaya bahwa Dia sedang membangun kerajaan-Nya dan bekerja untuk mendatangkan kemuliaan bagi diri-Nya. Kita harus pastikan bahwa kita tidak tertinggal dalam karya-Nya tersebut. Kita bisa bergandengan tangan dengan siapapun yang sepakat, untuk berusaha mewujudkan situasi Kerajaan Allah di Indonesia. Saya sebut “situasi”, karena saya merujuk kepada perdamaian, ketertiban dan cinta kasih, suasana yang kita yakini akan ada di Kerajaan Allah yang sejati kelak.

Datanglah Kerajaan-Mu, di bumi seperti di sorga …

Advertisements

Perenungan dari kitab Nahum dan Habakuk 21 September 2010

Posted by yesuaiwo in Renungan.
add a comment

Beberapa hari ini saat teduh saya didasarkan pada kitab Nahum dan kemudian diikuti dengan Habakuk.

Kita Nahum berbicara tentang penghakiman Tuhan terhadap bangsa Asyur, khususnya kepada kota Niniwe. Yang menarik adalah bahwa bangsa Asyur di beberapa tempat disebut sebagai alat Tuhan untuk menghukum bangsa Israel tanpa bangsa Asyur menyadarinya. Tapi bangsa Asyur pun kemudian dihukum Tuhan karena mereka bertindak kejam. Satu pelajaran yang bisa ditarik dari sini adalah bahwa kalau kita sedang dipakai Tuhan, ingatlah bahwa kita tidak memiliki “kekebalan diplomatik”. Apa yang kita lakukan tetap dihakimi oleh Tuhan, meskipun kita merasa sedang melakukannya untuk Tuhan.

Yang kedua, dari kitab Habakuk. Settingnya saat itu bangsa Yehuda baru saja terlepas dari ancaman Asyur dan bahkan Asyur sedang mulai runtuh. Tapi situasi sosial di Yehuda tetap buruk sehingga Habakuk minta Tuhan untuk mengintervensi. Uniknya, Tuhan menyampaikan bahwa Dia memang akan mengintervensi, tapi dengan cara yang tidak dapat dipercayai (ayat 5), yaitu dengan mengirimkan bangsa Babel yang garang dan tangkas untuk menghukum Yehuda. Dari sini, dan dari bagaimana Tuhan sebelumnya memakai Asyur untuk menghukum Israel, saya terpikir akan kemisteriusan Tuhan. Bahwa Tuhan itu seringkali bertindak di luar dugaan kita. Bahkan terkadang di luar batas moralitas yang kita bayangkan. Bukan hanya di Habakuk, contoh lain adalah di Ayub (mengijinkan Ayub menderita sedemikian rupa tanpa salah) dan di Yesus (mengorbankan Yesus mati di salib). Tapi pada akhirnya semuanya dipakai-Nya untuk kemuliaan nama-Nya, secara misterius dan baru bisa dipahami setelah semuanya lewat.

Hal lain yang juga menarik bagi saya adalah bahwa Habakuk ngeri membayangkan cara intervensi Tuhan ini. Saya bayangkan bahwa ia ingin protes karena orang2 yang benar pun berarti akan ikut menderita bersama dengan orang yang jahat. Tapi Tuhan menghiburkannya dengan berkata bahwa orang benar tidak akan binasa meski itu semua terjadi (ayat 4). Saya somehow jadi melihat ayat ini dari sudut yang berbeda daripada biasanya. Bahwa ayat ini bukan sedang berbicara tentang cara orang diselamatkan (yaitu melalui iman), tapi bahwa Tuhan menjamin bahwa orang benar akan tetap setia kepada-Nya meski bangsa Babel menyerbu dan mendatangkan kesusahan bagi bangsa Yehuda. Bahkan saya dapat bayangkan bahwa Habakuk sudah membayangkan kalau Yehuda akhirnya akan runtuh juga seperti Kerajaan Israel Utara karena serangan Asyur. Dan kita tahu ini memang kemudian terjadi di jaman Nebukadnezar. Tapi di dalam pembuangan dan setelah itu justru nyata benar janji Tuhan tadi. Bahwa orang benar (seperti Daniel, Ezra, Nehemia, dsb.) tetap setia kepada-Nya. Sehingga yang dihasilkan dari penderitaan tersebut adalah pemurnian bangsa Yehuda. Tepat seperti yang Habakuk inginkan, tapi dengan cara yang tidak Habakuk duga sebelumnya.

Oleh-oleh dari US 27 July 2010

Posted by yesuaiwo in Petikan pikiran.
add a comment



Saya baru aja balik dari trip semi-backpacking di US dari tanggal 10-27 Juli 2010. Dari perjalanan ini (dan perjalanan-perjalanan petualangan sebelumnya), salah satu hal yang sangat terasa bagi saya adalah tentang penyertaan dan perlindungan Tuhan. Melalui tulisan ini saya ingin mendaftarkan semampu saya, hal-hal “semi-ajaib” yang terjadi selama dalam perjalanan yang dalam iman saya yakini sebagai inisiatif Tuhan yang melindungi dan menyertai saya. Saya harus tulis “dalam iman” karena mungkin bagi orang lain, hal-hal ini hanya kebetulan semata, atau saya tarik-tarik hubungannya. Tapi melalui kacamata iman, saya maknai hal-hal tersebut dengan berbeda.

  1. Bacaan Alkitab saat teduh saya di pagi tanggal 10 Juli 2010 kalau tidak salah adalah dari 1 Raja-Raja 13. Entah kenapa, kata “perhentian” atau yang dalam versi Inggris dipakai kata “rest” berbicara kuat pada saya. Memang sangat keluar dari konteks perikopnya, tapi saya merasa Tuhan berjanji untuk memberikan saya istirahat selama di US. Hal ini berlatar-belakang pada fakta bahwa saya termasuk orang yang susah tidur, sehingga saya khawatir kalau sampai di US tidak bisa istirahat dengan cukup dan malah sakit. Nah, secara umum ternyata Tuhan penuhi janji-Nya ini. Saya relatif bisa tidur dengan nyenyak setiap malam. Termasuk di pesawat! Memang ini didukung oleh tubuh saya yang biasanya sangat lelah setelah seharian beraktivitas atau berjalan jauh dan bahwa saya membawa sumbat telinga yang biasa dipakai di pabrik-pabrik J Tapi bagaimanapun penjelasannya, realitanya adalah bahwa saya diberkati dengan istirahat yang cukup baik selama perjalanan, sesuai janji-Nya.
  2. Saya tiba di Chicago hari Sabtu tanggal 11 Juli 2010 sehingga Adi bisa full-service menjemput dan mengantar-antar saya ke mana-mana. Terus terbang ke Washington DC jg pas hari Sabtu, sehingga pesawatnya tidak terlalu penuh.
  3. Tiba di Boston pas hari Senin, sehingga Kak Budi dan Ci Lidya bisa fulltime nemenin saya keliling Boston di hari itu.
  4. Berangkat ke Cape Cod pas Ci Hayde kerja di hari pertama, shiftnya masih yang normal, sehingga bisa bareng ke Cape Cod dari Boston. Coba kalau ke Cape Codnya sehari lebih awal, Ci Hayde belum kerja, akan repot. Kalau sehari telat, Ci Hayde uda kena shift sore, jadi malah ga bisa ketemu.
  5. Ke Washington DC pas hari Sabtu sehingga bisa masuk ke Capitol building, kalau hari Minggu itu gedung ga boleh dimasukin.
  6. Ketemu Adi, Irene, Riadi, Eka, dkk. yang sangat-sangat hospitable. Bahkan sempat diajak rayain ultah teman gereja mereka. Padahal sebelumnya sama sekali ga kenal mereka, luar biasa!
  7. Ketemu Louis yang kebetulan waktu tanggal 11 Juli 2010 pas nginap di tempat Adi sehingga ketemu saya dan terus ngenalin dengan Eka, anak Purdue yang terus ngebantuin saya dengan luar biasa selama di Purdue. Kok ya bisa-bisanya tapi bisa pas ketemu Louis itu?!
  8. Check-in di hostel di Washington barengan ama 1 cewe dari Turki sehingga tahu bahwa kita bisa masuk ke Capitol building. Abis itu ga pernah ketemu ama itu orang lagi.
  9. Sempet dengan ceroboh ninggalin duit dan paspor di meja resepsionis di hostel di NY. Syukurlah stafnya, Andres namanya, sangat jujur. Sehingga baik uang maupun paspor balik dengan utuh.
  10. Tidak sakit sama sekali (kecuali agak pusing pas di Cape Cod) selama di US.
  11. Terhindar dari kejahatan. Cuma ada 2 situasi yang sempet bikin serem. Pertama di bus Greyhound dari Purdue ke Chicago, penumpangnya pada nyeremin. Kedua waktu di NYC, sempet didatangin orang yang kayanya mau nipu di train station menuju airport, untungnya berhasil lewat begitu aja.
  12. Cuaca yang mayoritas sangat baik.
  13. Bus yang saya naikin dari Washington ke NYC entah kenapa sempat ditahan polisi lalu-lintas selama hampir 1 jam. Padahal saya harus ngejar bus lanjutan dari NYC ke Boston. Untung delay itu tidak membuat saya sampai terlambat.
  14. Bus yang saya tumpangi dari NYC ke Boston sempat ada masalah dengan ACnya, sehingga akhirnya harus ganti bus. Untung tidak masalah jg.
  15. Saat teduh pagi saya di San Fransisco somehow mengingatkan bahwa saya adalah hamba Allah yang harus memuliakan Allah. Pesan ini bergaung sangat kencang ketika saya melihat keindahan alam di daerah sekitar Golden Gate Bridge yang sangat luar biasa sekali!
  16. Makanan yang somehow bisa dapat di waktu yang tepat dan tempat yang tepat.
  17. Di Washington saya tiba hari Sabtu. Waktu jalan2 ketemu New York Avenue Presbyterian Church sehingga saya hari Minggunya bisa ke gereja. Tadinya padahal ga kepikir gimana bisa ke gereja di situ. Saya sangat enjoy kebaktian di situ juga 🙂

Kayanya segini dulu yah. Kalau masih ada yang tiba-tiba terpikir, saya akan tambahkan terus.

Akhir kata, terima kasih, Tuhan. Engkau terlalu baik bagi saya.

Penderitaan dan Dosa 25 April 2010

Posted by yesuaiwo in Renungan.
add a comment

Dalam CG hari Rabu yang lalu, kami membahas tentang penderitaan. Selama ini saya berpikir bahwa penderitaan adalah akibat (dalam arti hukuman) akibat dosa. Tapi apa yang dikatakan salah satu teman di sana membuat saya melihat aspek lain. Yaitu bahwa mungkin penderitaan itu justru “diciptakan” Allah untuk mengatasi dosa.

Kenapa bisa demikian? Karena melalui penderitaan, manusia biasanya menjadi lebih mengenal Allah dan menjadi lebih baik. Jadi mirip sebuah sekolah dan lebih adalah sebuah anugerah dari Allah bagi kita yang berdosa ini. Bukan sebuah hukuman.

Nah, kalau manusia tidak pernah jatuh dalam dosa, tentu manusia sudah mengenal Allah dan “sempurna”. Sehingga manusia tidak perlu lagi mengalami sekolah penderitaan.

Pembunuh Tidak Sengaja 23 March 2010

Posted by yesuaiwo in Renungan.
1 comment so far

Tadi pagi saat teduh saya diambil dari Bilangan 35. Isinya tentang kota-kota perlindungan untuk orang-orang yang secara tidak sengaja membunuh orang lain. Akibatnya mungkin akan ada orang yang ingin membalas dendam kepada mereka. Orang-orang yang membunuh secara tidak sengaja ini kemudian disuruh Tuhan untuk lari ke kota perlindungan dan di sana nyawanya akan terpelihara.

Tapi kalau dipikir, kasihan ya orang-orang ini? Mereka tidak berniat jahat, hanya lagi sial sehingga secara tidak sengaja mematikan orang lain. Karena itu, hidupnya terus berubah total karena dia jadi harus ngungsi ke kota perlindungan. Terus baru bisa keluar dengan aman setelah imam besarnya ganti pula. Dengan kata lain, harus nunggu intervensi ilahi untuk hidupnya bisa pulih!

Tapi terus saya jadi inget ayat dari Pengkotbah 3:24-26. Bahwa adalah baik untuk menantikan pertolongan TUHAN. Persis seperti yang dialami oleh si pembunuh yang tidak sengaja itu.

Nah, sekarang kalau kita yang mengalami itu, gimana rasanya? Kita tidak tahu apa-apa, tapi Tuhan ijinkan kita untuk sial kena masalah. Akibatnya hidup kita berubah (atau malah berantakan) dan tidak ada jalan keluar selain dari menunggu pertolongan ilahi. Mengerikan ya >.<

Penderitaan dan Persatuan 21 March 2010

Posted by yesuaiwo in Renungan.
add a comment

Kotbah di GPBB hari ini diambil dari Yohanes 17 dan bertemakan tentang persatuan umat percaya.

Ayat 22 menarik perhatian saya secara khusus. Di situ Yesus mengatakan bahwa supaya umat percaya bisa menjadi satu, Dia telah memberikan kemuliaan bagi kita, sama seperti kemuliaan yang telah Bapa berikan kepada-Nya. Saya bertanya-tanya apa makna “kemuliaan” di sini? Apakah jenis kemuliaan yang biasa kita pikirkan, yaitu yang berhubungan erat dengan keagungan seorang raja atau Allah? Ataukah jenis kemuliaan khas Yohanes yang berhubungan erat dengan penderitaan Yesus di salib (lihat Yohanes 17:1)?

Kalau melihat bahwa ayat 22 ini ada di Yohanes 17, harusnya “kemuliaan” di situ juga sama dengan yang ada di ayat 1 ya? Yaitu kemuliaan yang erat dengan penderitaan, bukan (hanya) dengan keagungan. Dengan kata lain, ayat 22 bisa dibaca bahwa Yesus mengatakan kalau Dia sudah memberi kita keistimewaan untuk ikut menderita bersama Dia dan dari situ Gereja akan bersatu.

Kalau kita pikirkan, bukankah ini faktanya? Ketika Gereja mengalami penderitaan (terutama penderitaan fisik), biasanya umat percaya akan bersatu. Dan ketika Gereja nyaman, maka seringkali timbul perpecahan. Maka tantangannya, bagaimana kita bisa tetap bersatu meski tidak sedang dianiaya secara fisik? Mungkin jawabannya adalah di dalam kesadaran bahwa meski kita tidak sedang menderita secara fisik, secara spiritual penderitaan kita tidak pernah berhenti sampai Yesus datang kembali. Dan penderitaan spiritual ini cukup kuat untuk menjadi dasar bagi seluruh umat percaya bergandengan tangan bersama, bersatu menjadi saksi bagi Tuhan Yesus, juruselamat kita dan dunia.

Janji Yang Tergenapi 18 March 2010

Posted by yesuaiwo in Petikan pikiran.
add a comment

Pagi ini saat teduh saya berdasarkan Bilangan 27:1-11.

Saya merasa Tuhan berkata melalui firman-Nya tersebut bahwa masalah apapun yang terjadi pada saya, itu sudah seijin Dia (kalau bukan berasal dari rencana-Nya). Sehingga Dia berjanji bahwa saya pasti akan menemukan solusinya. Secara spesifik ini saya hubungkan dengan masalah yang saya hadapi dalam kerjaan saya. Sudah berminggu-minggu saya bingung dengan lubrication method prototype saya. Firman Tuhan ini seakan berbicara bahwa saya pasti akan bisa menemukan solusinya.

Terus tadi sore saya rapat dengan Prof. Ooi. Saya agak skeptis akan hasilnya karena paginya saya sempat coba-coba solve problem ini lagi dan tidak bisa-bisa juga. Tapi di meeting itu, Prof. Ooi mengusulkan sesuatu yang ternyata beneran berhasil solve problemnya! Lubrication method saya, meski belum benar2 kelar, tapi sudah menemukan titik terang!

Setelah rapat itu selesai, di perjalanan pulang saya teringat akan janji Tuhan di saat teduh saya. Dan Dia telah menggenapi janji-Nya! Terpujilah nama TUHAN!

Doa Yang Terkabul 4 March 2010

Posted by yesuaiwo in Petikan pikiran.
add a comment

Dalam 2 hari terakhir, ada 2 doa sederhana saya yang dikabulkan Tuhan secara langsung.

Yang pertama, kemarin waktu saya lagi meeting sama supervisor PhD saya, dia sakit perut. Memang lambungnya sudah kacau dan dia sudah sakit perut begitu selama lebih dari 1 minggu. Tapi kemarin dia sebegitu kesakitannya waktu kami meeting. Saya bisikkan sebuah doa di dalam hati, minta Tuhan untuk menyembuhkan dia. Terus beberapa menit kemudian, seorang anak FYP masuk ke ruangan dan dia lihat muka Prof. Ooi sangat pucat. Maka anak ini menawarkan untuk membelikan makanan. Supervisor saya pun minta tolong untuk dibelikan dari kantin. Dan setelah ia makan, perutnya langsung sembuh. Sakitnya hilang! Kebetulan? Bisa saja, tapi saya percaya Tuhan yang menyembuhkan dia. Doa saya terkabul.

Yang kedua, hari ini ada 1 teman saya yang kehilangan kartu kamar dan kartu EZlinknya. Hilangnya di mall pula! Gimana bisa ketemunya?! Saya pun lagi-lagi berdoa dalam hati supaya teman saya itu bisa menemukan kartu2nya tersebut. Sekitar 10 menit kemudian, doa saya itu pun terkabul! Teman saya mengirimkan SMS mengatakan bahwa kartunya sudah ketemu!

Tuhan memang masih mendengarkan doa-doa kita dan mengabulkannya sesuai kasih-Nya yang besar! 🙂

Protected: Kapan ‘Ku Melangkah Lagi? 18 February 2010

Posted by yesuaiwo in Apa Aja.
Enter your password to view comments.

This content is password protected. To view it please enter your password below:

Mengenal TUHAN 2 February 2010

Posted by yesuaiwo in Renungan.
1 comment so far

Saat teduh saya beberapa hari terakhir adalah tentang tulah-tulah yang TUHAN kirimkan ke Mesir.

Adalah aneh sebetulnya kalau dipikir bahwa TUHAN harus mengeluarkan orang Israel dengan cara serumit itu. Dia bisa memilih cara-cara lain yang lebih efektif dan efisien. Tapi TUHAN memilih untuk melakukannya dengan satu tujuan yang Dia sebutkan berulang-ulang, yaitu supaya Firaun dan bangsa Mesir tahu bahwa Dia adalah TUHAN. Yaitu, supaya bangsa Mesir mengenal Dia. Kita tahu bahwa pada akhirnya memang Firaun mengakui kekuasaan TUHAN dan membebaskan bangsa Israel untuk pergi.

Tapi saya juga sangat tertarik dengan apa yang Musa pelajari melaluinya. Musa sendiri waktu dipanggil Tuhan sudah langsung enggan. Bagaimana tidak? Setelah “terbuang” jadi gembala, terus disuruh balik ke Mesir, menghadap Firaun seperti itu. Belum lagi terus TUHAN sudah bilang bahwa hati Firaun akan dikeraskan terlebih dahulu.Terus setelah Musa menghadap Firaun untuk pertama kalinya, dia malah dimusuhi bangsa Israel. Karena beban kerja mereka jadi makin berat setelah Musa datang itu. Betapa terjepitnya Musa! Dan ini terjadi berkali-kali, sebab Firaun terus mengeraskan hatinya.

Tapi sepertinya justru dari pengalaman itu, Musa jadi lebih mengenal TUHAN juga. Dia lihat dan alami langsung mujizat-mujizat TUHAN. Kekuasaan-Nya yang mengatasi segala dewa dan sihir Mesir. Di situ saya rasa iman Musa menjadi makin mantap, sehingga ketika akhirnya ia memimpin Israel di perjalanan, tidak pernah tercatat Musa ragu akan TUHAN (meski dia tercatat sempat berdosa 1x dan membuat dia dilarang masuk Kanaan).

Dari situ, kita bisa lihat betapa pengenalan manusia akan TUHAN ini sepertinya adalah sesuatu yang sangat berharga buat Tuhan sendiri. Sehingga Dia rela repot-repot melakukan banyak hal untuk itu. Paulus juga mengimani ini, sehingga ia pernah berkata bahwa pengenalan akan Kristus membuat segala yang lain tampak seperti sampah.

Tapi mengenal Dia tidak mudah, tidak bisa hanya dengan membaca teori-teori yang ada. Harus dialami sendiri, seperti yang terjadi pada Firaun dan Musa. Dan Tuhan memakai segala hal dalam hidup ini untuk tujuan yang satu itu (Roma 8:28-29). Karena itu, mungkin perspektif yang tepat dalam menjalani hidup ini adalah demikian. Yaitu melihat, apa yang sedang Tuhan ingin perkenalkan lebih dalam kepada kita melalui apa yang kita alami. Bagaimana kita menjadi lebih mengenal Dia melalui peristiwa tersebut.