jump to navigation

Memaknai Insiden Cikeusik dan Temanggung 9 February 2011

Posted by yesuaiwo in Renungan.
trackback

Tanggal 7 dan 8 Februari 2011 adalah tanggal2 kelam dalam sejarah Indonesia di masa hidup saya.

Dengan biadab, ribuan orang menyerbu 20an orang yang dituding sebagai sesat di Cikeusik pada tanggal 7. Dengan biadab, mereka merangsek maju, mengingatkan akan jaman kegelapan di Eropa, ketika massa datang menyerbu mereka yang dituduh sebagai penyihir. Kemudian dengan biadab, mereka memukuli beberapa orang sampai mati, dengan ditonton beramai-ramai. Tragis dan biadab!

Satu perenungan, apakah kalau kasus ini terjadi di kalangan Kristen, hal yang sama akan terjadi? Saya rasa mungkin saja. Kita ingat di jaman 1500an, bagaimana gereja Roma memburu kelompok Protestan. Lalu beberapa tahun kemudian kelompok Protestan dan Katolik memburu kelompok Anabaptis. Dan seterusnya. Tapi di sisi lain, kita berharap bahwa sejarah kelam tersebut sudah membuat orang Kristiani sadar.

*sekedar catatan, beberapa hari yang lalu, teolog kontroversial Kristen, Ioanes Rakhmat, dilaporkan ke polisi*

Seorang teman dulu pernah berkata, perbedaan agama itu sebetulnya mirip asuransi saja. Masing2 klaim asuransinya yang paling baik dan berusaha saling meyakinkan untuk ikut asuransinya itu. Tapi kalau tidak mau, ya sudah, dibiarkan saja kan?

Hal lain yang juga jadi perenungan saya, kalau Ahmadiyah yang percaya akan adanya nabi lain setelah Yesus (Isa) dan Muhamad bisa dibantai, bagaimana dengan orang Kristen yang tidak percaya ada nabi setelah Yesus!

Besoknya, ribuan orang lagi membakar 2 gereja dan merusak 1 gereja lain di Temanggung. Alasannya karena seorang penyebar selebaran yang katanya menghina agama (tapi tidak bny yang tau isinya apa) “hanya” dihukum 5 tahun penjara (bandingkan dengan hukuman 6 bulan untuk Muharli Barda, ketua FPI Bekasi yang dituduh menusuk orang HKBP). Mereka menuntut dihukum mati.

Di satu sisi saya lega bahwa si terdakwa bisa diselamatkan polisi sehingga tidak sampai berakhir tragis. Tapi di sisi lain, saya sangat sedih bahwa lagi2 gedung gereja, sebagai simbol kekristenan, dijadikan target. Ini menunjukkan kebencian massa tersebut kepada kekristenan. Jadi pertanyaan, mengapa? Tentu kita bisa menyalahkan para pemimpin massa. Tapi jangan2 orang Kristen sendiri memang sama sekali tidak jadi berkat. Kita terlalu sibuk ngurusin sorga dan keselamatan roh (doktrin yang sebetulnya juga seringkali tidak setia dengan ajaran Alkitab bahwa sorga bukan akhirnya, melainkan kedatangan Yesus kedua kali dan pemulihan ciptaan). Atau ngurusin kelompok sendiri, tentang gimana supaya jemaat saya bertambah banyak, tidak diganggu orang, gedungnya nyaman, seputar2 itu saja.

Hal lain, saya sedang dalam periode membaca beberapa kisah tentang sejarah gereja di jaman Roma. Tepatnya di era setelah Para Rasul mangkat, tapi kekristenan belum diakui Roma. Itu adalah jaman yang sangat berat. Gereja minoritas, ditolak oleh Yahudi maupun oleh orang Roma. Akibatnya orang Kristen dianiaya habis2an. Tapi ajaibnya, Gereja tidak punah, malah akhirnya berkembang luar biasa (setidaknya secara jumlah). Fakta ini mengingatkan saya akan kalimat Tuhan: “Sebab dalam kelemahanlah, kuasa-Ku sempurna.”Kekristenan di Indonesia juga minoritas dan tertindas. Tapi kita diingatkan, bahwa dalam keadaan demikianlah, kuasa Tuhan akan sempurna. Entah bagaimana, nama-Nya akan dimuliakan, kalau kita tetap setia.

Saya juga berpikir, kita bersyukur punya teladan dari Yesus yang tidak melawan ketika disalibkan. Kemudian di Perjanjian Baru juga setahu saya tidak ada ayat tentang umat melakukan kekerasan (adanya hukuman dari Allah, bukan oleh umat). Selain itu, Gereja muncul tepat di jaman ketika dunia sedang intoleran terhadap kehadiran mereka, mengakibatkan mereka hanya bisa menerima penganiayaan dan berdoa. Sehingga dari ketiga hal tersebut, Gereja tidak punya alasan untuk bertindak agresif, dalam kondisi apapun. Baru nanti ketika gereja dapat kekuasaan di Eropa, kekristenan dikotori oleh kekerasan. Tapi itu pun sekarang cenderung dilihat sebagai penyimpangan, bukan hal yang lahir dari iman yang benar.

Sebagai penutup, entah apa yang sedang Tuhan rencanakan atas Indonesia. Kita harus percaya bahwa Dia sedang membangun kerajaan-Nya dan bekerja untuk mendatangkan kemuliaan bagi diri-Nya. Kita harus pastikan bahwa kita tidak tertinggal dalam karya-Nya tersebut. Kita bisa bergandengan tangan dengan siapapun yang sepakat, untuk berusaha mewujudkan situasi Kerajaan Allah di Indonesia. Saya sebut “situasi”, karena saya merujuk kepada perdamaian, ketertiban dan cinta kasih, suasana yang kita yakini akan ada di Kerajaan Allah yang sejati kelak.

Datanglah Kerajaan-Mu, di bumi seperti di sorga …

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.