jump to navigation

Perenungan dari kitab Nahum dan Habakuk 21 September 2010

Posted by yesuaiwo in Renungan.
trackback

Beberapa hari ini saat teduh saya didasarkan pada kitab Nahum dan kemudian diikuti dengan Habakuk.

Kita Nahum berbicara tentang penghakiman Tuhan terhadap bangsa Asyur, khususnya kepada kota Niniwe. Yang menarik adalah bahwa bangsa Asyur di beberapa tempat disebut sebagai alat Tuhan untuk menghukum bangsa Israel tanpa bangsa Asyur menyadarinya. Tapi bangsa Asyur pun kemudian dihukum Tuhan karena mereka bertindak kejam. Satu pelajaran yang bisa ditarik dari sini adalah bahwa kalau kita sedang dipakai Tuhan, ingatlah bahwa kita tidak memiliki “kekebalan diplomatik”. Apa yang kita lakukan tetap dihakimi oleh Tuhan, meskipun kita merasa sedang melakukannya untuk Tuhan.

Yang kedua, dari kitab Habakuk. Settingnya saat itu bangsa Yehuda baru saja terlepas dari ancaman Asyur dan bahkan Asyur sedang mulai runtuh. Tapi situasi sosial di Yehuda tetap buruk sehingga Habakuk minta Tuhan untuk mengintervensi. Uniknya, Tuhan menyampaikan bahwa Dia memang akan mengintervensi, tapi dengan cara yang tidak dapat dipercayai (ayat 5), yaitu dengan mengirimkan bangsa Babel yang garang dan tangkas untuk menghukum Yehuda. Dari sini, dan dari bagaimana Tuhan sebelumnya memakai Asyur untuk menghukum Israel, saya terpikir akan kemisteriusan Tuhan. Bahwa Tuhan itu seringkali bertindak di luar dugaan kita. Bahkan terkadang di luar batas moralitas yang kita bayangkan. Bukan hanya di Habakuk, contoh lain adalah di Ayub (mengijinkan Ayub menderita sedemikian rupa tanpa salah) dan di Yesus (mengorbankan Yesus mati di salib). Tapi pada akhirnya semuanya dipakai-Nya untuk kemuliaan nama-Nya, secara misterius dan baru bisa dipahami setelah semuanya lewat.

Hal lain yang juga menarik bagi saya adalah bahwa Habakuk ngeri membayangkan cara intervensi Tuhan ini. Saya bayangkan bahwa ia ingin protes karena orang2 yang benar pun berarti akan ikut menderita bersama dengan orang yang jahat. Tapi Tuhan menghiburkannya dengan berkata bahwa orang benar tidak akan binasa meski itu semua terjadi (ayat 4). Saya somehow jadi melihat ayat ini dari sudut yang berbeda daripada biasanya. Bahwa ayat ini bukan sedang berbicara tentang cara orang diselamatkan (yaitu melalui iman), tapi bahwa Tuhan menjamin bahwa orang benar akan tetap setia kepada-Nya meski bangsa Babel menyerbu dan mendatangkan kesusahan bagi bangsa Yehuda. Bahkan saya dapat bayangkan bahwa Habakuk sudah membayangkan kalau Yehuda akhirnya akan runtuh juga seperti Kerajaan Israel Utara karena serangan Asyur. Dan kita tahu ini memang kemudian terjadi di jaman Nebukadnezar. Tapi di dalam pembuangan dan setelah itu justru nyata benar janji Tuhan tadi. Bahwa orang benar (seperti Daniel, Ezra, Nehemia, dsb.) tetap setia kepada-Nya. Sehingga yang dihasilkan dari penderitaan tersebut adalah pemurnian bangsa Yehuda. Tepat seperti yang Habakuk inginkan, tapi dengan cara yang tidak Habakuk duga sebelumnya.

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.