Saat teduh saya beberapa hari terakhir adalah tentang tulah-tulah yang TUHAN kirimkan ke Mesir.
Adalah aneh sebetulnya kalau dipikir bahwa TUHAN harus mengeluarkan orang Israel dengan cara serumit itu. Dia bisa memilih cara-cara lain yang lebih efektif dan efisien. Tapi TUHAN memilih untuk melakukannya dengan satu tujuan yang Dia sebutkan berulang-ulang, yaitu supaya Firaun dan bangsa Mesir tahu bahwa Dia adalah TUHAN. Yaitu, supaya bangsa Mesir mengenal Dia. Kita tahu bahwa pada akhirnya memang Firaun mengakui kekuasaan TUHAN dan membebaskan bangsa Israel untuk pergi.
Tapi saya juga sangat tertarik dengan apa yang Musa pelajari melaluinya. Musa sendiri waktu dipanggil Tuhan sudah langsung enggan. Bagaimana tidak? Setelah “terbuang” jadi gembala, terus disuruh balik ke Mesir, menghadap Firaun seperti itu. Belum lagi terus TUHAN sudah bilang bahwa hati Firaun akan dikeraskan terlebih dahulu.Terus setelah Musa menghadap Firaun untuk pertama kalinya, dia malah dimusuhi bangsa Israel. Karena beban kerja mereka jadi makin berat setelah Musa datang itu. Betapa terjepitnya Musa! Dan ini terjadi berkali-kali, sebab Firaun terus mengeraskan hatinya.
Tapi sepertinya justru dari pengalaman itu, Musa jadi lebih mengenal TUHAN juga. Dia lihat dan alami langsung mujizat-mujizat TUHAN. Kekuasaan-Nya yang mengatasi segala dewa dan sihir Mesir. Di situ saya rasa iman Musa menjadi makin mantap, sehingga ketika akhirnya ia memimpin Israel di perjalanan, tidak pernah tercatat Musa ragu akan TUHAN (meski dia tercatat sempat berdosa 1x dan membuat dia dilarang masuk Kanaan).
Dari situ, kita bisa lihat betapa pengenalan manusia akan TUHAN ini sepertinya adalah sesuatu yang sangat berharga buat Tuhan sendiri. Sehingga Dia rela repot-repot melakukan banyak hal untuk itu. Paulus juga mengimani ini, sehingga ia pernah berkata bahwa pengenalan akan Kristus membuat segala yang lain tampak seperti sampah.
Tapi mengenal Dia tidak mudah, tidak bisa hanya dengan membaca teori-teori yang ada. Harus dialami sendiri, seperti yang terjadi pada Firaun dan Musa. Dan Tuhan memakai segala hal dalam hidup ini untuk tujuan yang satu itu (Roma 8:28-29). Karena itu, mungkin perspektif yang tepat dalam menjalani hidup ini adalah demikian. Yaitu melihat, apa yang sedang Tuhan ingin perkenalkan lebih dalam kepada kita melalui apa yang kita alami. Bagaimana kita menjadi lebih mengenal Dia melalui peristiwa tersebut.